Tantangan Penggunaan Mobil Listrik yang Harus Kamu Ketahui

momobil.id – Mobil listrik belakangan ini mulai digadang-gadang di berbagai negara sebagai alternatif kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Hal ini bukan tanpa alasan. Penggunaan mobil listrik disebut lebih hemat bahan bakar dibanding mobil konvensional. Bahkan beberapa hari lalu, baru saja diselenggarakan pameran mobil listrik untuk pertama kalinya dengan tajuk Indonesia Electric Motor Show 2019 yang diadakan 4-5 September 2019.

Menurut data Departemen Energi sub divisi Efesiensi dan pembaharuan Energi Amerika Serikat, rata-rata mobil berbahan bakar bensin tiap tahunnya memproduksi gas emisi sebanyak 11435 pounds gas CO2. Sementara mobil listrik hanya memproduksi 4352 pounds gas CO2. Dari dua perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa gas emisi mobil listrik jauh lebih ringan dibandingkan mobil konvensional sehingga lebih ramah lingkungan.

Tren mobil listrik diperkuat atas kesadaran masyarakat untuk mengurangi efek pemanasan global. Produsen kendaraan papan atas mulai berlomba merancang kendaraan listrik untuk menarik hati masyarakat. Dari tahun ke tahun, produksi mobil listrik makin meningkat. Pada tahun 2018, produksi mobil listrik secara global mencapai 5,1 juta, naik dua juta dari tahun sebelumnya.

Namun, apakah mobil listrik benar-benar tanpa masalah? Ternyata tidak sepenuhnya. Dari segi penggunaan bahan bakar dan produksi emisi, mobil listrik memang jauh lebih ramah lingkungan dibanding mobil konvensional. Namun mobil listrik meninggalkan beberapa masalah baru yang hingga kini belum ada penyelesaiannya.

Seperti yang diketahui, mobil listrik menggunakan baterai yang berfungsi untuk menampung tenaga listrik yang nantinya dialirkan sebagai tenaga penggerak mobil. Sayangnya, ketika mobil listrik tidak lagi digunakan, baterai tersebut akan menjadi limbah yang harus dipikirkan terkait sistem daur ulangnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun mendefinisikan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), baterai termasuk ke dalam kategori limbah B3. Limbah baterai diklasifikasikan dalam kategori B3 yang bersifat toksik bagi manusia. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah melakukan penelitian terkait daur ulang limbah baterai ion lithium.

Baca Juga: Contoh penerapan daur ulang baterai mobil listrik

Selain masalah limbah baterai, tegangan dalam mobil listrik pun juga bisa menjadi masalah. Seorang teknisi harus betul-betul berhati-hati dan teliti ketika melakukan perawatan maupun perbaikan mobil listrik guna menghindari risiko tersengat listrik yang bisa mengakibatkan cidera atau kematian. Hal ini dikarenakan tegangan yang ada pada kendaraan listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional.

Mobil listrik memang menjadi primadona sebagai solusi untuk mengurangi efek pemanasan global. Namun para pengembang dan produsen mobil listrik diharapkan turut mencari solusi guna mengurangi risiko yang mungkin terjadi dalam penggunaan mobil listrik.

Sumber gambar: Kent Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *