Belajar dari Kecelakaan Tol Cipularang, Perhatikan Jarak Aman Berkendara

momobil.id – Pada Senin (2/9/2019) kemarin, publik dikejutkan dengan kabar kecelakaan beruntun yang terjadi di tol Cipularang KM 91. Dampak kecelakaan yang melibatkan 21 kendaraan tersebut sangat fatal, karena menimbulkan korban luka dan korban jiwa. Dugaan awal penyebab terjadinya kecelakaan tersebut yakni pengemudi yang tak menjaga jarak aman dan kendaraan yang tidak bisa mengerem.

Kejadian seperti kecelakaan di tol Cipularang sebenarnya bisa dihindari dengan menjaga jarak keselamatan yang ideal antara kendaraan yang satu dengan lainnya. Jika pengemudi mobil menjaga jarak aman untuk semua kendaraan, maka akan terbentuk jarak berhenti yang ideal sehingga bisa menghindari atau meminimalisir potensi tabrakan antar kendaraan.

Kepada Okezone, Rifat Sungkar selaku General Manager Rifat Drive Labs menjelaskan bahwa mobil baru bisa benar-benar berhenti paling cepat dua detik jika terjadi sesuatu yang menuntut pengereman mendadak. Dalam kasus rem mendadak, dibutuhkan waktu 0,5 sampai satu detik mulai dari mata melihat kejadian lalu dilanjutkan ke otak untuk memerintahkan kaki menginjak pedal rem. Ketika memacu kendaraan dengan kecepatan 100 kilometer per jam, artinya setiap detik pengemudi sudah berpindah sejauh 27,7 meter. Banyak hal yang bisa terjadi dengan jarak dan di kecepatan itu.

Selanjutnya, mulai dari pedal rem diinjak dan sistem di mobil bekerja menahan roda juga membutuhkan waktu 0,5 sampai satu detik. Terakhir, pengereman juga membutuhkan waktu untuk dapat memberhentikan mobil. Maka jika dalam kecepatan 100 km/jam, hampir enam puluh meter kendaraan masih mampu melaju bebas ke depan.

Karena itu, pengemudi harus mengingat pentingnya menjaga jarak aman ketika berkendara. Dalam teori defensive driving, dijelaskan bahwa jarak aman minimal yakni selama tiga detik. Pendapat senada juga disampaikan Gerry Nasution selaku Driving Instructor BMW Driving Experience. Jika pengemudi bingung dengan penghitungan jarak aman, ia menyarankan pengemudi untuk mempertimbangkan kemampuan serta perkiraan pribadi pengemudi. “Biasanya berdasarkan feeling dibutuhkan empat detik untuk mengerem maksimal dan aman. Jarak serta waktu pengereman tersebut meningkat saat berkendara di malam hari,” jelasnya.

Gerry melanjutkan, melakukan rem mendadak sebenarnya merupakan dilema bagi pengemudi. Jika masih memungkinkan, respon pengemudi akan membanting setir ke kiri untuk menghindari potensi tabrakan. Karena itu, menurutnya melakukan pengereman secara keras bukanlah respon yang keliru. Apalagi jika kendaraan di depan melakukan rem mendadak dan tak bisa lagi dihindari. “Hal utama yang bisa kita antisipasi adalah mengurangi dampak benturan,” kata Gerry.

Sumber gambar: Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *